🎈 Kisah Akhwat Menanti Jodoh
Persoalanseorang akhwat yang memiliki rasa kepada ikhwan yang dianggapnya sekufu dan sehati, ternyata belum tentu demikian menurut Allah. Namun, karena Allah sayang pada hambaNya, maka akhwat tersebut mendapatkan yang lebih baik menurut kehendakNya. *** Adalah akhwat aktivis, sebut saja namanya Sarah. Jelita luar dalam, impian setiap ikhwan.
Ataukalimat yang lainnya, “Jika ada seorang ikhwan yang berani mengatakan perasaannya kepada seorang akhwat, berarti sudah berani untuk mengkhitbah si akhwat tersebut. Namun jika ternyata ikhwan tersebut hanya ingin mengungkapkan perasaan yang ia pendam pada waktu yang belum tepat, itu hanya akan mendzolimi hati si akhwat”.
Kitabisa mengambil pelajaran dari kisah seorang Ummu Sulaim, sohabiyah yang amat bijak tatkala menghadapi suaminya pada malam hari. studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh. Read More “Untuk Akhwat Dalam Penantian” »» Diposting oleh Sanur di
KunciMeraih Jodoh Terindah (yang sedang Evi jalani) 1. Jangan pernah putus asa. Sadarilah selalu, bahwa menanti jodoh bukanlah petaka. Bersabar dan mengharap ridha Allah, adalah cara terindah. 2. Sepatutnya menghindari pacaran. Jangan hiraukan ocehan orang yang mungkin memojokkan Anda, wahai akhwat muslimah.
Inilahkisah nikah Mut’ah mantan akhwat syi’ah Bandung. Semoga akhwat ini adalah pasien trakhir dari perzinahan nikah mut’ah, semoga kita tidak mengikuti dan dapat diambil hikmah dari kisah nyata berikut. Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter Hanung, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin di kota Bandung.
sebuahkisah abadi cinta terindah sepanjang masa terbentuk beribu tahun silam namun ceritanya abadi sepanjang masa. Ikhwan Langka Bernama Ali Ikhwan itu sama dengan laki-laki lainnya. Rutin berinteraksi dengan akhwat ayu, daiyah populer dari keluarga terpandang, dan sekalipun tarbiyah bukan hanya sepekan sekali menerpa, namun dia masih
Akhwatdi Dunia) Ukhtifillah, Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kaubangun dengan segala kekhusyu'an dan jodoh setiap manusia telah Allah tetapkan, maka yang perlu kita lakukan adalah bagaimana untuk selalu memperbaiki usaha kita dalam menerima ketiga-tiga perkara itu
Padabagian kisah tentang adiknya yang lumpuh dan kemudian meninggal, pria yang gemar berolahraga petualangan ini tidak kuasa membendung tangisnya. - Akhwat/Wanita, wajib mengenakan busana muslimah berjilbab, bukan sekedar kerudung. berikan aku jodoh yang sehat jasmani dan rohani dan mau menerima aku apa adanya, masih belum ada tanda
Ceritatentang jodoh dan nikah pun, kadang-kadang membuat ketawa guling-guling #itu ilmu jangan ketawa-tawa :D Setelah lama aku menanti, lalu kita bersama, kita menjadi seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu. Aamiin ya robb :) Akhwat, imut tapi kuat, sukanya jajan kue donat, dan rajin sholat meskipun cuma 4 rakaat ( Sholat
. Kata Kata Mutiara Menanti Jodoh Terbaik - Jodoh adalah bagian dari takdir, sama halnya dengan rejeki dan kematian. Tidak ada yang tahu kapan waktunya datang, kapanpun itu yang terpenting adalah mempersiapkan. Tak henti berikhtiar, berdoa, dan berusaha menjemputnya. Bagi seorang perempuan yang belum dipertemukan jodohnya, biasanya yang mereka lakukan hanyalah menunggu. Tak mampu mengungkapkan, hanya doa yang menjadi harapan. Berharap laki-laki yang dicintainya itu datang melamarnya. Berikut adalah 50+ kumpulan quotes, kutipan kata kata mutiara bijak, kata kata indah, kata kata bagus, keren, romantis, ungkapan pepatah, kalimat pribahasa, kata kata nasehat islami dan kata kata motivasi tentang menanti, penantian, atau menungguh jodoh, pasangan, dan pernikahan. Kata kata inspiratif tentang menanti jodoh ini sangat cocok dijadikan caption foto/gambar instagram, status facebook, story whatsapp atau lainnya sehingga orang lain yang membacanya juga dapat terinspirasi. 1. Kamu percaya tidak? Tersembunyi apapun seseorang ia pasti akan bertemu dengan jodohnya. Percayalah syarat bertemu dengan jodoh bukan karena fotomu ada di medsos. Untukmu yang menanti di dalam hijab akbar. Tetaplah seperti itu. Tetaplah tersembunyi dan teruslah belajar. - Bela 2. Jika kita hanya menanti jodoh yang sempurna saja, kita mungkin tidak akan bertemu jodoh sampai kapanpun. Manusia pasti memliki kekurangan, Jodoh itu adalah melengkapi antara satu sama lain. 3. Sabar itu ada batasnya makanya ada perintah untuk bertawakal, terutama sabar dan bertawakkal dalam menanti jodoh. 4. Tentang jodoh ada yang sudah dipertemukan, ada yang msih mencari, ada yang msih menanti. Semua memiliki waktunya masing-masing. 5. Jodoh selalu tahu ke hati mana ia harus melangkah dan berpulang. Sebab itu setiap yang mencari pasti menemukan, setiap yang menanti pasti akan di temukan. 6. Pagi bukan saatnya untuk bermalas-malasan dek. cepat bangun, pagi terlalu berharga untuk dilewatkan dengan bermalas-malasan. ada hal besar yang sudah menanti untuk diraih, jodoh contohnya. 7. Bersabar dalam menanti jodoh dari-Nya sembari memperbaiki dan memantaskan diri. 8. Perkara jodoh. Terkadang kamu lupa akan konsepnya. Bahwa, itu diatas kendali Sang Pencipta. Biarkan semesta bekerja sebagaimana mestinya. Tugas kita, menanti dan memantaskan. Sekian. 9. Rejeki sudah ada yang ngatur. Begitu juga jodoh. Sabar-sabarlah menanti, wahai jiwa-jiwa yang sepi. 10. Menanti jodoh itu memang memerlukan doa dan usaha. Dan usaha yang utama adalah memperbaiki diri agar dapat yang baik pula. 11. Semoga yang daerahnya banjir segera surut. Semoga yang isterinya suka ngelawan lekas nurut. Semoga yang msh menanti jodoh lekas dijemput. - rajaandaru 12. Yakin, segala sesuatunya tepat waktu. - Reni Sukma 13. Tentang jodoh ada yang sudah dipertemukan, ada yang msih mencari, ada yang msih menanti. semua memiliki waktunya masing-masing. 14. Menanti jodoh yang misterius, menunggu ketidakpastian, berandai bahwa kau akan bersua dengan seorang pangeran dambaan, namun cinta dalam diam membuat mu merasa gelisah, tetapi pada akhirnya kau akan menemukan jawaban, cinta sejati, dipertemukan oleh alam, dan Tuhan penciptamu. - tuitamatir 15. Pacaran lama = bisa putus. Sudah lamaran = bisa gagal. Intinya jangan terlalu percaya, hari esok itu rahasia Tuhan. Makasih yang sudah ksh support, yang sudah kasih doa baik. Yang suka julid, semoga dapat hidayah. Yang menanti jodoh semoga tahun depan kita menemukan yang tepat. - Ayy_only 16. Menanti jodoh ni ibarat menanti ajal dan maut. Kita tak pernah tau bila saat dan masanya. Semuanya dalam rahsia Allah. 17. Tabahkan hatimu dalam penantian jodoh. Pernikahan bukanlah perlombaan. Dalam urusan jodoh, kesendirian karena penantian penuh kesabaran jauh lebih baik daripada mendahului berpasangan namun tak halal,, Sabar mblo. - vadila nurazizah 18. Tabahkan hatimu dalam penantian jodoh. Pernikahan bukanlah satu perlombaan. 19. Cepat atau lambat semua udah diatur Allah, jangan jadikan masa penantian sebagai jalan untuk berbuat maksiat dengan berpacaran ya "......Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula”. QS An Nur 26 20. Jodoh kamu itu sudah disiapkan dari dulu sebelum kamu lahir. Untuk masalah kapan, dimana dan juga waktunya pertemuan itu sudah direncanakan dengan indah oleh Allah. Jadi bersabarlah dalam penantian do'a dan juga usahanya. 21. Untukmu yang bertahan dalam penantian semoga Allah segerakan jodoh terbaik untuk kita yang memang sesuai yang kita harapkan yang akan selalu setia bersama kita. - Dovil Muhammad 22. Di tengah derasnya hujan, ada cela yang tak tertetesi oleh airnya. Begitulah ibarat jodoh dan penantian. 23. Tabahkan hati dalam sebuah penantian jodoh.. Sebab pernikahan perlombaan. 24. Tubuh mungkin terlihat kokoh. Namun nyatanya hatiku roboh. Penantian yang penuh cemooh. Untukmu yang bernamakan jodoh. 25. Lalu saya juga bingung, andai suatu pernikahan adalah akhir dari penantian jodoh, lantas knapa ada perceraian. Apakah jodohnya sebatas itu saja.? 26. Allah tidak mendekatkan jodoh kita dengan cara yang harammelalui hawa nafsu tetapi Allah mendekatkan jodoh kita melalui penantian yang penuh dengan kesabaran melalui iman dan taqwa kepadaNya. 27. Sebab penantian yang sia-sia selama 6 tahun? tapi cepat-cepat sedar sebab semua soal ajal maut, jodoh rezeki Allah yang tentukan. jadi mungkin belum masanya lagi. 28. Sadar nggak? Kita ini hidup nungguin seseorang yang disebut "Jodoh", dan kita harup percaya bahwa penantian kita nggak akan disia-siakan. 29. Apa yang harus kamu lakukan di masa penantian jodoh? Pertanyaan ini menghajatkan jawaban dari perspektif fikih penantian’, yang membahas bagaimana sikap terbaik tatkala tengah menanti takdir Allah berupa jodoh. - Cahyadi Takariawan 30. Kenapa bulan ini mikirnya “Sudah pantaskah aku dinikahi mu Dan menjadi ibu dari anak mu kelak?” Kalau memang sudah jodoh, Alhamdulillah penantian panjang berakhir disini. 31. Agar hatimu tenang, percayalah saja bahwa setelah penantian yang begitu melelahkan, terkadang pertemuanmu dengan jodoh semudah membalikkan telapak tangan. - kopibukudanpena 32. Zaman sekarang tuh lagi bumingnya itu "penantian jodoh" bukan "penantian kematian", padahal jodoh itu kebenarannya belum pasti sedangkan kematian kebenarannya sudah jelas2 pasti. 33. Dalam masa penantian jodoh, kejarlah cinta Allah, agar engkau dikejar oleh cinta dia yang mencintai-NYA 34. Hijrah kok yang di upload tentang nikah, jodoh sama penantian cinta mulu. Sekali-kali siksaan api neraka gitu loh. - tempewwgoyeng 35. Tanpa diminta untuk menunggu, Jodoh pasti bertemu di ujung penantianmu. Betapa rugi orang yang tergesa-gesa, sedangkan ada penantian yang begitu indah. - jomblomulia 35. Dalam masa penantian jodoh, kejarlah cinta Allah, agar engkau dikejar oleh cinta dia yang mencintaiNYA. - ukhtisally 36. Kesabaran yang baik dalam penantian datangnya jodoh itu, adalah kesabaran yang tidak pernah diringi keluh kesah dan ratapan. - kuliahnikah 37. Perbaiki akhlaqmu, karena jodoh adalah cerminanmu. 38. Maha suci Allah yang menjadikan kepasrahan kepada-Nya sebagai kesabaran dalam penantian jodoh terbaik dari-Mu. 39. Ukhti, Menanti jodoh, tak berarti dirimu pasif dear, isi masa penantian dengan berbagai aktivitas full manfaat. - teladanrasul 40. Penantian tak selamanya indah, kadang kala ada pula kegundahan hati, kapankah jodoh akan datang? - teladanrasul 41. Yang tak pernah kenalpun sebelumnya, bisa dengan tiba-tiba datang berkenalan kepada kita. Itulah jodoh! - defoto3 42. Akhi wa ukhti yang sedang dalam penantian hadirnya jodoh, mari kita pantaskan diri untuk menunggu datangnya jodoh yang terbaik dari Allah. - inspirasiindah 44. Sahabat, dalam penantian Jodoh, sahabat melakukan ngetes jodoh dgn cara pacaran atau memantaskan diri aja? - manjaddawajadda 45. Jodoh sudah Allah siapkan, isi waktu-waktu penantian dengan belajar, terus memantaskan diri. - uktisally 46. Coba instrospeksi diri. Gunakan masa penantian jodoh ini dengan terus berikhtiar, berdoa dan terus sibuk memperbaiki diri. - Adbdul Azis 47. Semoga yang sedang dalam penantian jodoh terbaik diberi keteguhan hati menjaga kesucian diri dari maksiat. - tweetnikah 48. Jodoh hanyalah penantian dalam kesabaran. sepasang kaus kaki milikku membuktikannya hari ini. 49. Jodoh itu rahasia Allah. sekuat apa kita setia, selama apa kita menunggu, sekeras apa kita bersabar. Jika allah tidak menulis jodoh dengan pasangan kita, kita tidak akan pernah bersamanya dan terimalah takdirnya, percayalah tulang rusuk dan pemiliknya tidak akan pernah tertukar. 50. Kata mereka jika jodoh tak akan ke mana. Tapi sangatlah bodoh kalau menunggu sampai tua, karena brondong ada di mana-mana. 51. Jodoh itu rahsia Allah. Sekuat mana pun kita setia, selama mana pun kita menunggu, sehebat mana pun kita merancang, seusaha mana pun kita bersabar, sejujur mana pun kita berbagi kasih ia tetap rahsia Allah. - fieyyrasha 52. Jika kamu telah menunggu lama dalam perjodohan, Yakin sajalah, bahwa Allah tidak pernah sembarangan dalam menjodohkan setiap hamba-Nya.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Ketika usia seorang lajang sudah mendekati apalagi memasuki 30 tahun, sering muncul kegelisahan terkait jodoh. Pertanyaan keluarga dan masyarakat sekitar kerap menjadi tekanan beberapa kalangan jomblo, bahkan mereka merasa tengah dibully saat ada yang bertanya tentang pernikahan. Padahal sebenarnya pertanyaan itu termasuk 'standar basa-basi' atau bahkan 'sopan santun' masyarakat Indonesia. Tidak ada maksud membully sama sekali saat saya bertanya kepada siapapun, "Sudah menikah?" Atau, "Sudah berkeluarga?" Atau, "Sudah berapa anaknya?" Itu semua adalah pertanyaan wajar dalam perkenalan di lagi ketika pernah mengalami peristiwa ditolak oleh seseorang yang diharapkan menjadi pasangan hidupnya. Seorang lelaki salih pernah bercerita kepada saya, bahwa dirinya pernah beberapa kali ditolak pinangannya oleh pihak akhwat. Pada contoh yang lainnya, ada akhwat yang kecewa karena lelaki salih yang diharapkan datang meminangnya, ternyata menikah dengan akhwat yang lainnya. Kejadian pernah ditolak, kadang membuat perasaan tidak nyaman, bahkan terkadang menjadikan rasa tidak percaya diri. Pun ketika 'tidak pernah ada yang datang', seseorang bisa merasa tidak normal atau tidak wajar. Apa yang salah pada diriku, sehingga semua orang menjauhi aku? Apa dosaku, sehingga belum ada yang datang meminang diriku? Apa kekuranganku, sehingga tak ada perempuan tertarik dengan aku? Pertanyaan seperti ini kerap mengganggu dan membuat tidak yang harus dilakukan di masa penantian jodoh? Inilah perlunya 'fikih penantian', yang membahas bagaimana sikap terbaik tatkala tengah menanti takdir Allah berupa Penantian JodohFikih fiqih artinya adalah ilmu atau pemahaman. Orang yang berilmu atau memahami sesuatu disebut sebagai faqih. Fikih Penantian berati ilmu tentang menanti datangnya jodoh, yaitu bagaimana lelaki dan perempuan lajang harus bersikap di saat mereka tengah berada dalam masa penantian jodoh. Apa yang semestinya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh para lajang selama masa penantian. Inilah cakupan pembahasan dalam Fikih Penantian. Paling tidak, ada tujuh sikap yang sepatutnya dimiliki para lajang laki-laki dan perempuan di masa menanti datangnya jodoh idaman hati, sebagai berikutRidha Terhadap Ketentuan AllahMenanti itu Bukan Pasif, Pesimis dan ApatisSelalu Produktif di Masa PenantianSelalu Yakin dan OprimisMemperbaiki Persiapan DiriMenjaga Kebaikan DiriMemperluas Pergaulan dengan Orang Salih / SalihahSaya akan membahas satu per satu, Terhadap Ketetapan AllahJodoh adalah bagian dari ketetapan Allah. Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan, "Sebagaimana rejeki telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya, demikian pula jodoh. Ia telah tercatat dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya. Setiap orang telah tercatat pasangan hidupnya, telah ditentukan dengan siapa dia akan menikah. Tidaklah tersembunyi bagi Allah 'Azza wa Jalla sesuatu pun yang ada di bumi dan yang ada di langit".Terkadang, seseorang berharap dirinya segera bertemu jodoh, sesuai dengan kriteria yang diinginkannya. Ia meminta kepada Allah -penyegeraan waktu, dan ketepatan kriteria sesuai daftar keinginannya. Padahal Allah yang Maha Mengetahui, kapan waktu yang tepat dan mana jodoh yang tepat. Allah telah berfirman"Bisa jadi, kalian membenci sesuatu padahal dia lebih baik bagi kalian. Bisa jadi pula, kalian mencintai sesuatu padahal dia lebih buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui" QS. Al Baqarah 216.Hendaknya kita selalu ridha dengan ketetapan agungNya. Ridha bahwa Allah telah menetapkan jodoh dan akan dipertemukan pada waktu yang telah direncanakanNya. Kita boleh berdoa dan berusaha, namun semua ketetapan ada pada kuasaNya. Sikap yang selalu kita kedepankan adalah, ridha dengan semua ketetapanNya. Tidak mengeluh, tidak protes, tidak marah atas hal yang belum ditetapkan untuk kita -seperti maunya itu Bukan Pasif, Pesimis dan ApatisYang disebut sebagai masa penantian, bukanlah pekerjaan kesia-siaan. Bukan seperti orang yang hanya duduk-duduk tanpa mau bekerja, namun meminta limpahan rejeki yang banyak dari Allah. Hidup di dunia ini memang akan mati, namun bukan berarti kegiatannya hanya berdiam diri untuk menunggu waktu mati. Sepanjang hidup, kita ditutntut untuk beramal salih, menghiasi kehidupan dengan kebaikan dan Utsaimin menyatakan, rejeki dan jodoh sudah ditetapkan oleh Allah Ta'ala sejak manusia masih dalam perut ibu. "Namun janganlah dikatakan bahwa rejeki sudah tercatat dan sudah ditentukan sehingga kita tidak perlu melakukan sebab-sebab upaya yang bisa menyampaikan kepada rejeki tersebut. Sebab, sikap seperti itu termasuk yang cerdas dan menunjukkan kekokohan adalah kita berusaha menempuh sebab yang mengantarkan menuju rejeki kita dan melakukan hal yang bermanfaat dalam urusan agama dan dunia", demikian penjelasan Syaikh beliau menukilkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam"Orang yang cerdas adalah yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk persiapan kehidupan setelah mati. Adapun orang yang lemah adalah yang mengikuti keinginan hawa nafsunya lantas mengharapkan dari Allah angan-angannya." HR. at-Tirmidzi no. masa penantian, ada banyak usaha yang bisa dilakukan untuk mendapatkan jodoh. Usaha bathiniyah adalah dengan taqwa, memperbanyak doa, memperbanyak istighfar, sabar dan tawakal kepada Allah Ta'ala. Sedangkan usaha lahiriyah adalah dengan melakukan proses menuju ta'aruf secara langsung ataupun melalui perantara yang bisa dipercaya. Yang harus diperhatikan, hendaknya semua proses mendapatkan jodoh selalu mengikuti aturan syari'ah. Jangan sampai melakukan tindakan yang menyimpang dari aturan syari' Produktif di Masa PenantianPada masa penantian, hendaklah melakukan berbagai amal salih yang bermanfaat untuk diri dan orang lain. Misalnya belajar menuntut ilmu, baik di lembaga pendidikan formal maupun nonformal; atau belajar dengan berkegiatan langsung yang produktif. Termasuk melakukan berbagai kewajiban yang ditetapkan untuk orang beriman, seperti beribadah, beramal salih, bekerja mencari penghidupan yang halal, dan dimaksud dengan produktif, bukan hanya sekedar berkegiatan, namun harus ada yang dihasilkan. Hendaknya anda menjadi lajang yang penuh karya, kreatif, inovatif, produktif dan konstruktif. Anda harus melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Betapa banyak orang-orang yang menorehkan karya terbaik bagi negara, memberikan sumbangan berupa karya ilmiah, prestasi, penemuan, kejuaraan, dan lain sebagainya. Inilah yang dimaksud dengan manajemen waktu anda. Sejak dari bangun tidur pagi hari, lakukan hal-hal yang produktif. Melakukan kegiatan rutin, apakah sekolah, kuliah, bekerja, olah raga, membaca, mengaji, ibadah, silaturahim, dan hal-hal produktif lainnya. Sampai saatnya anda tidur kembali di malam hari untuk istirahat, tidur pun dalam konteks yang produktif. Yaitu tidur yang benar-benar memberikan rehat bagi jiwa dan raga. Tidur nyenyak yang memberikan tenaga untuk keesokan harinya. Bangunnya produktif, tidurnya juga Yakin dan OptimisDalam masa penantian, hendaklah selalu yakin dan optimis menatap masa depan. Jangan sampai jodoh menjadi hantu yang membebani perjalanan kehidupan. Ketika anda yakin bahwa Allah sudah menentukan jodoh, maka sesungguhnya peristiwa ditolak saat melamar, harus dipahami dalam bingkai jawaban atas rahasia jodoh. Bahwa memang dia memang bukan jodoh anda, bahwa jodoh anda belum Allah pertemukan dengan dan optimis, bahwa Allah akan berikan jodoh yang terbaik bagi dunia dan akhirat anda. Tugas terpenting kita adalah terus memantaskan diri di hadapan Allah, agar Allah segera pertemukan dengan jodoh terbaik bagi dunia dan akhirat yang menolak lamaran anda, itu karena memang bukan jodoh anda. Mereka yang menikah dengan orang lain, padahal anda mau menikah dengan dirinya, itu karena memang bukan jodoh anda. Sederhana jika kita pahami dengan keyakinan akan kuasa Allah atas makhlukNya. Anda harus benar-benar yakin bahwa jodoh berada dalam kekuasaan Allah Ta' keyakinan seperti ini, anda tidak akan terjatuh ke dalam sikap kesombongan di satu sisi, bahwa seseorang merasa sangat gampang mencari calon jodoh karena cantik atau tampan. Ia merasa dikelilingi banyak lawan jenis yang memiliki ketertarikan besar kepada dirinya, tinggal ia memilih. Seakan-akan ia tidak berhubungan dengan ketentuan takdir Allah yang pasti berlaku bagi seluruh di sisi lain juga terhindarkan dari keputusasaan, seakan-akan jodoh tak pernah bertemu dengan dirinya. Jangan pernah putus asa dari mengharapkan rahmat Allah, karena rahmat Allah sangatlah luas. Berdoalah kepada Allah, berharaplah kepada Allah, mintalah petunjuk dan bimbingan kepada Allah, karena hanya Allah yang Maha Mengetahui semua hal. Sungguh pengetahuan dan usaha manusia sangat terbatas, maka kita harus selalu memohon pertolongan dan kekuatan dari-Nya. Memperbaiki Persiapan DiriPada masa penantian itu, hendaknya anda gunakan sekaligus untuk memperbaiki dan menambah persiapan diri menuju pernikahan. Semakin baik persiapan diri anda, akan semakin baik kehidupan pernikahan anda nantinya. Ada sangat banyak hal bisa dilakukan untuk menambah persiapan diri, sejak dari mental spiritual, intelektual, finansial, termasuk fisik dan kesehatan badan. Hendaknya anda mengoptimalkan kesiapan dari sisi kepribadian, agar benar-benar menjadi pribadi dewasa dan siap tumbuh dan hidup berumah tangga memerlukan kedewasaan dan kematangan kepribadian. Bukan hanya berumah tangga, bahkan dalam bekerja, berkarier, berorganisasi, maupun bermasyarakat, juga memerlukan karakter pribadi yang apakah pribadi dewasa itu? Menurut perspektif psikologi, seseorang yang memiliki pribadi dewasa, dalam dirinya terdapat ciri-ciri sebagai berikutMemiliki "sense of self" atau konsep diri yang kuat, seperti bisa mengambil keputusan untuk dirinya tanpa mengandalkan orang menjalin hubungan sosial dengan orang lain secara sehat, dalam jangka waktu kematangan emosional, mampu mengelola dan mengontrol emosi, sehingga kondisi mood-nya tidak bergantung kepada aksi atau reaksi orang menerima dirinya secara seimbang, misalnya mengetahui dan menerima kelebihan dan kekurangan diri, sehingga bisa bertindak dengan menyusun argumen, pendapat, pandangan, dan persepsi yang logis dan masuk berpikir jangka panjang dan membuat perencanaan jawab atas tindakan yang mengelola konflik atau perbedaan dengan berbagai ciri-ciri tersebut, apakah anda sudah memiliki pribadi dewasa? Menjadi tugas anda untuk semakin mendewasakan pribadi. Sangat berbahaya, jika belum dewasa namun sudah menikah. Laki-laki dan perempuan yang tidak dewasa, jika mereka hidup berumah tangga, cenderung tidak akan bisa bertahan lama. Mereka tidak bisa mengendalikan emosi, tidak bias menyelesaikan masalah secara dewasa, tidak mampu menghadapi badai persoalan dalam kehidupan. Itulah sebabnya, menikah hanya boleh dilakukan oleh orang pula, sangat penting bagi anda untuk memiliki jiwa pembelajar, yang terus menerus giat menambah ilmu pengetahuan, wawasan, namun juga ketrampilan. Kehidupan pernikahan adalah kondisi yang sangat dinamis, penuh dengan aneka warna keadaan. Kadang melewati suasana penuh keceriaan dan kebahagiaan, kadang harus melewati kesusahan dan kedukaan. Kita harus siap untuk terus belajar menghadapi semua kondisi kehidupan yang aneka rasa apapun anda belajar dan mempersiapkan diri untuk membentuk rumah tangga, tetap saja ada bagian yang belum sempat anda pelajari, saking banyaknya ilmu yang dibutuhkan. Karena kehidupan keluarga itu tidak flat, terus berubah dan berkembang dari waktu ke waktu. Selalu bertemu hal-hal baru. Benarkah? Coba kita tengok selintas saja, teori Duvall dan Milller mengenai "8 Stages of The Family Life Cycle".Menurut Duvall dan Miller, kehidupan dan perkembangan sebuah keluarga, akan melalui delapan tahap Beginning Family / Keluarga Baru, Childbearing Family / Keluarga dengan Kelahiran Anak Pertama, Family With Preschoolers / Keluarga dengan Anak Pra-Sekolah, Family With School-age Children / Keluarga dengan Anak Sekolah, Family With Teenagers / Keluarga dengan Anak Remaja, Launching Family / Keluarga dengan Anak Dewasa, Middleage Family / Keluarga Usia Pertengahan, Aging Family / Keluarga Usia dari teori Duvall dan Miller itu saja sudah bisa memberikan gambaran, bahwa kehidupan keluarga itu sangat dinamis. Tidak pernah berada dalam kondisi yang sama, terus menerus mengalami perkembangan dan perubahan. Oleh karena itu, pada setiap tahap kehidupan berumah tangga, semua orang harus bersedia untuk tetap belajar. Kita akan terus menerus belajar di sepanjang kehidupan berumah tangga. Itulah sebabnya butuh dicetak karakter pembelajar pada diri setiap Juga Hidup Sebagai Lajang, Apa yang Harus Dilakukan?Menjaga Kebaikan DiriPada masa penantian hendaklah pandai menjaga kebaikan dan kesucian diri. Jangan sampai ternoda dan tercela. Jangan mencoba-coba hingga melanggar aturan syari'ahNya. Nabi Saw memerintahkan kepada para pemuda yang telah memiliki kemampuan untuk menikah, dan apabila belum mampu menikah hendaknya berpuasa. Tuntunan mulia ini adalah dalam rangka menjaga kebaikan diri selama masa penantian. Dengan berpuasa, akan bisa mengendalikan gejolak syahwat, sehingga tidak menjerumuskan ke dalam kemaksiatan."Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki kemampuan ba-ah, maka menikahlah, karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu adalah pengekang syahwatnya yang menggelora". Hadits Riwayat Bukhari no. 5065 dan Muslim no. para lajang, memang ada tantangan sangat berat harus dihadapi bagi mereka yang dalam masa menanti datangnya jodoh. Tantangan itu adalah penjagaan diri. Ketika sudah berada dalam usia dewasa, hormon-hormon kedewasaan sudah tumbuh dengan normal, maka di saat itu perasaan ketertarikan kepada pasangan jenis akan sangat kuat masa menanti dan melewati proses pernikahan itu, jangan mengotori diri dengan perilaku kebebasan pergaulan, yang justru akan menjerumuskan ke dalam kesengsaraan. Masa menunggu sampai terjadinya pernikahan terasa demikian lama, sementara mereka harus mampu terus menerus menjaga diri sepanjang waktu. Pada situasi seperti itu, mucullah banyak godaan yang telah menimbulkan banyak sekali persoalan. Lihatlah di sekitar kita. Berapa banyak orang-orang yang tidak mampu menjaga diri sehingga mereka terjerumus ke dalam dunia bebas yang kebebasan pergaulan diperturutkan, kerugian yang muncul bukan hanya karena terkotorinya hati serta niat suci, namun telah merusak pula berbagai sendi kehidupan dan kemanusiaan. Kebebasan yang diperturutkan akan memunculkan kehinaan dan bahkan korban jiwa. Korban jiwa dari anak-anak yang tidak berdosa dan tidak mengerti apa-apa tentang dunia. Hamil di luar nikah, selain bernilai dosa besar menurut agama, namun juga melanggar kepatutan norma di data yang dikeluarkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional BKKBN, diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta jiwa dari 5 juta kelahiran pertahun. Bahkan, 1 - 1,5 juta diantaranya adalah kalangan kejadian aborsi 2,5 juta kejadian per tahun itu sama dengan kejadian aborsi per bulan, atau kejadian aborsi per hari, atau 290 kejadian aborsi setiap jam, atau 4 sampai 5 kejadian aborsi setiap data ini sangat mengerikan dan membuat miris. Pelaku aborsi mayoritas anak-anak muda yang belum menikah. Mereka menggugurkan kandungan karena terlanjur hamil sebelum menikah. Begitulah sampak dari ketidakmampuan menjaga kebaikan dan kesucian diri di masa penantian. Sangat merugikan bahkan merusak nilai Pergaulan dengan Orang Salih / SalihahSangat penting untuk menjaga pergaulan bahkan memperluas, terutama dengan orang-orang salih dan salihah. Sangat penting bagi anda untuk membangun kesalihan pribadi, itulah sebabnya anda harus memperbanyak bergaul dengan orang-orang salih / harus berusaha menjadi salih dalam segala aspeknya. Salih dalam segala cakupan maknanya. Pondasi untuk membentuk pribadi salih / salihah adalah rasa takut kepada Allah, karena meyakini Allah selalu mengawasi semua tindakannya."Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya" QS. Qaf 16.Orang-orang yang takut kepada Allah akan menjaga diri dari kecenderungan hawa nafsu yang menyimpang. Mereka inilah pemilik pribadi salih."Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya". QS. An-Nazi'at 40-41Pribadi salih / salihah adalah mereka yang bertaqwa kepada Allah. Suatu ketika ada seorang laki-laki menghadap Hasan bin Ali, sembari bertanya, "Ya Hasan, puteriku akan dipinang, kepada siapakah aku harus menikahkannya?" Hasan bin Ali menjawab, "Nikahkan puterimu dengan orang yang bertakwa. Sebab bia ia mencintainya pasti akan menghormati dan memuliakannya, dan bila ia tidak mencintainya pasti tidak akan menzhalimi puterimu."Itulah karakter salih. Suami salih akan selalu menjaga, melindungi, menyayangi, dan mengasihi istri. Tak akan menyia-nyiakan atau mentelantarkan istri. Tak akan menyakiti dan melukai istri. Demikian pula istri salihah akan selalu menghormati suami, mentaati suami dalam hal yang tidak maksiat, selalu mengasihi, mnyayangi dan melayani suami sepenuh hati. Pun orangtua yang salih, akan selalu mendidik, mengarahkan, menyayangi dan mencintai anak sepenuh salih, bertumbuh dari lingkungan orang-orang salih. Perempuan salihah, bertumbuh dari orang-orang salihah. Penting bagi anda -di masa penantian-semakin memperluas pergaulan di lingklungan yang salih / salihah. Selain mendapatkan pengaruh positif dari kesalihan mereka, anda juga akan mendapatkan doa-doa tulus dari mereka. Semakin banyak orang salih / salihah mendoakan anda, insyaallah akan semakin istijabah di BacaanCahyadi Takariawan, Wonderful Marriage, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2017Prof. Dr. Musthofa Al Bugho, Al Fiqhu Al Manhaji 'ala Madzhabi Al Imam As Syafi'i, Darul Qalam, 1430 ilmu dari fadhilatul Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dalam 1 2 3 4 5 Lihat Lyfe Selengkapnya
Sebagai gambaran bagaimana Islam memberikan kemudahan untuk menikah, berikut riwayat tentang Sa’id b. Musayyab seorang tabi’in terkemuka di Madinah yang menolak lamaran putra khalifah Abdul Malik ibn Marwan 65 – 86 H, lalu justru menikahkannya dengan seorang duda miskin bernama Abu Wada’ah. “Abu Wada’ah bercerita kepadaku tetangganya , ia menuturkan, “Aku –sebagaimana yang kamu tahu- selalu berada di masjid Rasulullah SAW untuk menuntut ilmu. Aku senantiasa berada di halaqoh Said ibn al-Musayyib, dan aku ikut berdesak-desakan bersama manusia…Kemudian dalam beberapa hari aku menghilang dari halaqoh syaikh sehingga ia mencari-cariku dan menyangka aku sakit atau ada sesuatu yang menimpaku…Ia bertanya tentang aku kepada orang-orang di sekelilingnya, namun tidak ada berita yang ia dapatkan dari mereka. Tatkala aku kembali kepadanya setelah beberapa hari, ia menyalamiku dan mengucapkan selamat datang. Ia bertanya, “Dimanakah kamu wahai Abu Wada’ah?” Baca lebih lanjut → Sahabat, sikap sabar menanti jodoh ternyata telah dianjurkan dalam Islam, sebagaimana kisah yang terdapat dalam Al-Quran di bawah ini. “Oh ibu, usiaku sudah lanjut, namun belum datang seorang pemuda pun meminangku? Apakah aku akan menjadi perawan seumur hidup?” Kira-kira begitulah keluhan seorang gadis Mekah yang menunggu jodohnya. Ia berasal dari Bani Ma’zhum yang kaya raya. Mendengar rintihan si anak, ibunya yang teramat kasih dan sayang kepada anaknya lantas kalang kabut ke sana ke mari untuk mencari jodoh buat si puteri. Pelbagai ahli nujum dan dukun ditemuinya, ia tidak peduli berapa saja uang yang harus keluar dari saku, yang penting anaknya yang cuma seorang itu dapat bertemu jodoh. Namun sayang usaha si ibu tidak juga menampakkan hasilnya. Buktinya, janji-janji sang dukun cuma bualan kosong belaka. Sekian lama mereka menunggu jejaka datang melamar, akan tetapi yang ditunggu tidak pernah nampak batang hidungnya. Baca lebih lanjut → Suatu hari, hujan deras memaksa sang ikhwan berteduh di sebuah gedung tua. Sang ikhwan baru pulang kerja. Itu adalah hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan. Di situ, ia menyaksikan seorang lelaki buta dituntun oleh seorang wanita. Mereka mencari tempat duduk untuk berteduh. Di sudut gedung tua itu, sang wanita menyeka air hujan yang mengenai wajah si buta. Begitu penuh kasih sayang di antara keduanya. Si Buta paruh baya itu beristrikan seorang muslimah muda nan cantik. “Subhanallah, Allah Maha Pemberi Rahmat kasih sayang, bahkan si buta pun tak luput dari kasih sayangMu ya Allah”, Sang ikhwan terharu dan tersadar betapa besar kasih sayang Allah terhadap hambaNya. Beberapa saat yang lalu, ia sempat trauma, putus asa, dan lupa akan rahmat Allah. Bahkan pernah tersisip niat tak akan menikah. Padahal Allah berfirman, “Janganlah berputus asa terhadap rahmat Allah, sesungguhnya tidakberputus asa terhadap rahmat Allah kecuali orang-orang yg kafir” Yusuf87 Satu minggu kemudian, sang ikhwan mendapat undangan menghadiri rapat kerja tahunan organisasi dakwah di kampusnya. Sebagai mantan pengurus, ia tentu merasa penting untuk datang. Saat acara berlangsung, seorang wanita tergopoh-gopoh membawa sekardus makanan. Ia kemudian menyerahkan satu paket konsumsi tersebut ke panitia laki-laki. Sang ikhwan sesaat melihat wanita tersebut, lalu ia termenung… “wanita pembawa konsumsi tadi serasa tak asing, hm… Ya Allah! Bukankah ia adalah wanita yang kulihat tempo hari bersama suaminya yang buta? Ternyata dia seorang mahasiswi”, sang ikhwan terkejut membatin. “Sssssttt… koq kamu memperhatian akwat pembawa konsumsi itu terus? Kalau suka lamar aja walaupun belum tentu diterima, hehe.. Saingan ente pasti banyak kalo mau melamar dia”, kata kawannya yang masih jadi mahasiswa. Sang ikhwan terperanjat… “Astaghfirullah, saya tidak sengaja.. semoga Allah mengampuni dosa saya karena tidak menundukkan pandangan terhadap wanita itu. Saya cuma heran dengan akhwat itu, bukankah dia sudah menikah… saya pernah melihat ia bersama suaminya yang, maaf, buta. Tadi aku dengar ente bilang kalo suka dia, dilamar aja? Gak salah tuh, melamar istri orang?” Tanya sang ikhwan penuh heran. “Weitttttss.. sembarangan ente, wanita muda n cantik gitu dibilang udah punya suami.. yang ente Maksud itu pasti bapaknya bukan suaminya… Wk wk wk wk…”, sang ikhwan menjadi bahan tertawaan kawannya. “Masya Allah, saya salah sangka donk…”, Sang ikhwan sedikit malu terhadap kawannya itu. Namun, justru berawal dari situ, ia semakin terkesan dengan akhwat pembawa konsumsi itu. Apalagi sang ikhwan memang sedang melakukan pemburuan.. memburu jodoh yang tak kunjung datang. Walau banyak pesaing, sang ikhwan takan gentar. Ia akan tetap berusaha dan bertawakal memburu targetnya. Kali ini akhwat pembawa konsumsi. Setelah mendapatkan info alamat e mail akhwat yang diburunya, sang ikhwan langsung mengirimkan surat Kepada YTH Calon istri saya, Calon ibu anak-anak saya, dan Calon bidadari surgaku Di tempat Assalamu’alaikum Wr Wb Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai. Saya seorang yang menginginkan ukhti untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini. Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin Singkat cerita, akhwat puteri seorang lelaki buta itu pun menerima dan telah men-komunikasikan dengan kedua orang tuanya. Orang tua akhwat ini sangat mengerti agama… walau ia tahu bahwa sang ikhwan adalah lelaki sederhana, mereka dengan terbuka dan senang hati menerimanya. “Sebulan lagi, kita langsungkan pernikahan. Bukankah Rasulullah menyerukan untuk menyegerakan pernikahan jika jodoh sudah datang?” Ayah yang buta itu menodong langsung sang ikhwan untuk menikahi puterinya. “Baiklah, Insya Allah saya terima tantangan bapak”, jawab sang ikhwan penuh keyakinan, walaupun sebenarnya ia merasa kaget dan tidak sangka akan secepat itu. Sang ikhwan tak punya uang… Uang gajinya bulan ini sudah ia kirimkan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya. Menjelang hari pernikahan, sang ikhwan hanya mampu membayar uang administrasi KUA. Uang sisa hanya Rp 50 ribu. Sang akhwat memang tidak meminta apa-apa. Ia hanya meminta cincin kawin sebagai saksi pernikahannya. Dengan uang Rp 50 ribu, sang ikhwan jalan-jalan mencari sesutu yang bisa dijadikan sebagai mas kawin. Tepat di pinggir jalan, ia melihat tukang aksesoris menjajakan barang-barangnya. Mata sang ikhwan langsung tertuju pada sepasang cincin besi, ia menawar dan membelinya. “Ukhti, cincin ini sebagai tanda ikatan perkawinan kita… memang tak seberapa, harganya pun cuma Rp 30 ribu. Namun, jangan dipandang dari harganya…lihatlah itu sebagai symbol akad nikah yang akan kuucapkan atas nama Allah. Akad suci mitsaqon ghalida perjanjian yang kuat. Akad yang Allah anggap setara dengan perjanjian antara Allah dengan para nabi dan RasulNya. Cincin ini menjadi saksi perjanjian kuat tersebut. Semoga engkau menerimanya”, tulis sang ikhwan di kertas yang ia kirimkan beserta sepasang cincin, dua hari sebelum pernikahan. Sang akhwat mengirimkan sms “Akhi, cincinnya sudah saya terima. Aku hanya bisa menangis terharu dan bahagia menerimanya. Semoga Allah mempersatukan kita di dunia maupun di akhirat. Aku sudah mantap akan mengarungi kehidupan bersama akhi. Sampai jumpa di pelaminan. Calon istrimu.” Pernikahan sederhana penuh barokah terlaksana sudah. Mereka kini hidup bahagia dengan satu orang putera. Kehidupan ekonominya telah membaik. Mereka bersama merintis bisnis. Cincin besi itu pun hingga kini masih melingkar di jari suami-istri tersebut. Ken Ahmad Kawan-kawan memberi info tentang seorang akhwat. Mereka menjulukinya akhwat C4. Sesuai julukannya, ia bisa meledakkan jantung seseorang sampai berdetak kencang hingga melelehkan mata pria yang memandangnya. C4 itu bukan bahan peledak seperti yang kita kenal, namun C4 singkatan dari CANTIK luar dalam, CUEK, CALM and CONFIDENT. Tidak tahu siapa yang pertama kali memberi julukan. Yang jelas, akhwat itu dikagumi banyak lelaki karena C4-nya. Tapi, pria-pria tidak ada yang berani kurang ajar. Busana muslimah yang dikenakannya membuat orang segan. Ditambah, C4 tidak pernah menanggapi dan memberi harapan pria yang jatuh hati padanya. Hati C4 seolah tertutup rapat dari rayuan gombal para lelaki. Dia adalah seorang mahasiswi Fakultas MIPA semester akhir di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Dengar-dengar, C4 sudah siap menikah dan sedang menanti lelaki melamarnya. Gayung bersambut… sang ikhwan menanggapinya dengan antusias. “Mungkin saja Allah mengirimkan dia untuk menemani hidupku, membasahi kegersangan hatiku, serta penyejuk duniaku. Tidak ada yang tahu sebelum aku mencobanya”, sang ikhwan berkata dalam hati dengan penuh harap. Cukup bernyali, ikhwan miskin ini memimpikan seorang bidadari yang cantik, kaya dan banyak pengagumnya. Sedangkan sang ikhwan hanyalah seorang pengembara penuh derita… yang tak cukup harta bahkan kadang terancam nyawa. Tak ada cewek-cewek yang meliriknya. Namun, mental penakluk dunia telah menancap kuat sejak kepergian orang tua. Tak ada yang ditakutinya kecuali Allah. Semua manusia sama derajatnya, baik miskin atau kaya, baik cantik ataupun buruk rupa. Yang membedakan dan memuliakan manusia hanyalah ketakwaannya. Ternyata itu yang membuat nyalinya bak singa di gurun sahara. Proses ta’aruf pun dijalani dengan perantara guru ngaji sang ikhwan, Ustadz Hanif. C4 melihat biodata lelaki yang akan meminangnya. “Baru lulus kuliah, belum dapat pekerjaan. Tapi, sepertinya ikhwan ini komitmen dan ia pasti bertanggung jawab menafkahi keluarga. Dialah yang paling berani diantara lelaki yang mencoba meminangku”, C4 termenung sendiri dalam hati. Secara tak sadar, ia telah mengagumi sang ikhwan. “Apakah ukhti menerima pinangan ini?” Pertanyaan Ust. Hanif secara tiba-tiba mengejutkan C4 yang sedang bergumam sendiri. Rona wajah C4 terlihat memerah… begitu natural tampak kecantikannya. Terlihat salting, C4 kemudian hanya tersenyum tersipu malu dan sedikit menganggukkan kepala. Melihat kode jawaban C4, Sang Ikhwan langsung memeluk Ust. Hanif. Ia tak bisa memendam rasa bahagia itu. “Alhamdulillah, Allah mulai tunjukkan siapa jodoh saya”, sang ikhwan mengucap syukur. Sungguh tak disangka pinangannya akan diterima. Keakraban telah tampak antara Sang ikhwan dan keluarga C4. Rencana pernikahan mulai dibicarakan. Orang tua C4 meminta 6 bulan untuk persiapan nikah sekaligus memberikan kesempatan C4 menyelesaikan skripsinya. Sebelum pernikahan, keluarga C4 harus mengunjungi keluarga sang ikhwan. Hari kunjungan tersebut telah ditentukan. Memang, saat pinangan, keluarga C4 tidak terlalu banyak bertanya kondisi ekonomi sang ikhwan. Sang ikhwan pun tidak banyak cerita hal itu, akibat terlena dan terlalu bahagia. Sepertinya mereka sudah percaya sepenuhnya, karena sang ikhwan seorang sarjana. Sang ikhwan tak punya rumah. Ia jadikan rumah kakaknya sebagai tempat kunjungan keluarga C4. Rumah sempit dan banyak penghuninya. Dengan menggunakan Mobil Kijang Inova, tibalah keluarga C4 di rumah keluarga Sang ikhwan. Sang ikhwan mulai tak enak hati. Keluarga C4 enggan turun dari mobil untuk memasuki rumah. Hampir setengah jam mereka terdiam dalam mobil. C4 akhirnya mendesak ortu dan rombongan untuk turun menemui keluarga sang ikhwan. Di dalam rumah, ortu C4 tampak dingin, tidak bersikap seperti biasanya. Ketika memasuki rumah sempit itu, Sang ikhwan mulai menangkap kekecewaan di raut wajah orang tua C4. Dengan basa-basi Ayah C4 berucap kepada kakak sang ikhwan, “pinangan ini belum tentu jadi ya, ini kan baru proses pengenalan”. Deg. Deg. Deg. Denyut jantung sang ikhwan terhentak oleh ucapan Ayah C4. Ia tak bisa berkata sepatah pun… Ia hanya ingat ortu C4 akan menikahkan dengan putrinya pada tanggal yang telah ditentukan. “Mengapa meraka berubah? Apa karena kini aku tampak fakir di hadapan mereka? Tapi sudahlah, saya tidak boleh berburuk sangka”, sang ikhwan berusaha menenangkan diri. Tiga hari setelah kunjungan keluaga C4, usai shalat subuh tiba-tiba terdengar nada pesan. Rupanya sms dari C4 untuk Sang ikhwan, isinya “Akhi, jka saya memilih satu diantara dua pilihan, yaitu nikah atau meneruskan kuliah.. kemudian saya putuskan untuk memilih melanjutkan kuliah S2, bagaimana menurut akhi? Ini sudah keputusan keluarga”. SMS itu semakin menguatkan firasat sang ikhwan… Ia menyadari keluarga C4 tidak menyukainya setelah hari kunjungan kemarin. Sms ini adalah penolakan pinangan secara halus. Sang ikhwan kemudian membalas sms-nya “Demi Allah yang dapat menentukan segala hal, sesungguhnya Allah telah menggariskan jodoh seseorang. Jika engkau bukan jodohku, ini adalah ketetapanNya. Jika karena kemiskinanku, aku dihinakan, ini juga keputusanNya. Allah telah menguji keimananku. Inilah takdir yang Allah berikan. Allah mengetahui mana yang terbaik. Boleh jadi aku menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagiku. Boleh jadi aku membenci sesuatu padahal ia amat baik bagiku. Allah mengetahui, sedang aku tidak mengetahui. Mohon maaf jika ada kesalahan selama kita ta’aruf. Semoga Allah berikan jodoh yang terbaik untukmu. Wassalam.” Tiga bulan kemudian, C4 resmi menikah dengan lelaki lain. Studi S2 yang menjadi alasan batalnya pinangan, hanyalah alibi. Itu hanya rencana untuk membatalkan pinangan. Sang ikhwan hanya berpasrah diri terhadap ujian yang menimpanya. Luka lama ditinggal kedua orang tua seolah menganga kembali. Kini ia merasa dihinakan karena kemiskinannya oleh orang yang ia cintai. Trauma menghinggapi jiwanya. Tak ada lagi impian tentang cinta. Bersambung ke bagian 3…. Ken Ahmad Dorongan ekonomi membawa bunda pergi ke negeri orang. Menyusul Ayahanda yang telah dulu menjadi TKI Tenaga Kerja Ilegal… Ilegal menurutku, karena hal itu tak pernah diizinkan keluarga.. anak-anak terlantar karenanya Alih-alih bertemu ayah, ibunda malah terdampar. Hingga terdengar kabar ibunda meninggal karena kekurangan oksigen di kamar pembantu, di sebuah rumah elit, di Negara Saudi Arabia. Ibunda meninggal dalam kondisi tak wajar. Tak ada jasad. Tak ada wajah yang bisa dilihat sang bocah untuk terakhir kali. Yang diterima hanya kabar ibunda telah disemayamkan. Entah dimana… Sebulan kemudian… ayahanda yang tak pernah bertemu bunda di negeri orang pun pulang. Hati sang bocah berumur 6 tahun ini sangat senang. Ia ingin bertemu ayah yang selama ini tak pernah terlihat. Ia ingin meraba, menyentuh dan bermanjaan dengan sang ayah. Begitu besar kerinduannya, hingga ia salah mengenal orang. Orang yang datang ke rumah dikira ayah… Sang bocah menarik-narik tangan sang tamu dan berkata, “Ayah, ayah lama sekali meninggalkan aku… aku pengen digendong ayah”. Sang bocah telanjang yang hanya mengenakan celana pendek itu pun langsung menaiki punggung orang yang ia kira ayahnya dengan riang… Menyaksikan hal itu, sang tamu langsung menitikkan air mata… sambil memindahkan posisi bocah yang digendongnya ke arah depan, ia pun memeluk erat sang bocah. Namun, ia tak sanggup berkata-kata, apalagi untuk menyampaikan kepada sang bocah bahwa ayahnya di RS tak berdaya karena sakit liver stadium IV. Tak berapa lama.. sang bocah tahu ayah meninggal di sebuah RS di Jakarta. Bagai sehidup semati, kepergian ibunda disusul ayahanda hanya dalam waktu sebulan… *** Sejak ditinggal kedua orang tua 20 tahun silam, hidupnya terasa gersang. Tak ada lagi tetesan kasih membasahi jiwanya yang mengering. Tak ada topangan motivasi di saat-saat hidup terasa sulit. Tiada penadah saat raganya rapuh dan hendak terjatuh… Hidupnya bagai di alam liar. Mencoba bertahan di tengah belantara kehidupan yang kejam. Masyarakat tampak acuh dan langka uluran tangan. Namun Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, selalu menyelamatkannya di saat-saat terdesak. Buktinya, selama ini ia berhasil tumbuh walau miskin dan penuh kesederhanaan. Ia meyakini bahwa Allah yang selalu mengawasi dan memberikan rizki selama ajal belum menjemputnya. Sebagaimana sebuah hadist mengatakan, “…Karena sesungguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir yang telah ditentukan untuknya….”HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Alhamdulillah, sang bocah telah tumbuh dewasa. Segala bentuk kesulitan dan penderitaan telah menghantarkannya pada majelis-majelis. Ia selalu mencari jawaban atas segala kesulitan yang dialaminya melalui pengajian-pengajian. Dan, kini ia telah jadi seorang ikhwan. Namun, kehausan kasih yang selama ini terpendam tetap saja tak bisa hilang dengan pengajian. Kesunyian kerap kali menghampirinya… Sang ikhwan merindukan kasih yang tak pernah ia dapatkan. Sudah menjadi fitrah manusia ingin dikasih dan mengasihi, ingin dicinta dan mencintai. Setiap kali ia membutuhkan cinta, ia hanya bersimpuh dan bercengkrama dengan Allah di keheningan malam. Namun, tetap saja itu tak cukup. Masih ada keresahan yang mengganjal. Hingga ia menyadari bahwa ia membutuhkan cinta Allah dalam bentuk lain. Yaitu, cinta dari sejenisnya yang telah Allah ciptakan agar manusia bisa merasa tentram. Bersambung. ke bagian 2. Ken Ahmad Rahasia jodoh, rejeki dan kematian adalah mutlak milik Allah Swt, tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengetahuinya kecuali sang Pemilik diri kita. Hal tersebut telah terpatri erat dalam pikiranku sejak lewat dua tahun lalu. Mendorongku untuk terus berikhtiar dan selalu berkhusnudzon kepada Allah Azza wa Jalla tentang kapan saatnya tiba menemukan belahan jiwaku. Dalam proses pencarian diusiaku yang ketiga-puluh-tiga, beberapa teman dekat mulai dijajaki, ta’aruf pun dilakukan. Dalam proses ta’aruf, salah seorang sempat melontarkan ide tentang pernikahan dan rencana khitbah. Namun herannya, hati ini kok emoh dan tetap tidak tergerak untuk memberikan jawaban pasti. Hey, what’s going on with me? Bukankah aku sedang dikejar usia yang terus merambat menua? Bukankah aku sedang dalam proses pencarian belahan jiwa? Bahkan seorang sahabat sempat berkomentar miring tentang keengganan aku memberikan respon kepada salah satu dari mereka. Si sahabat mengatakan bahwa aku adalah type pemilih’ yang lebih suka jodoh yang tampan, kaya raya dan baik hati, dan lainnya yang serba super dan wah. Tapi, aku gelengkan kepalaku ke arahnya karena kriteria seorang calon suami bagiku adalah si dia seorang muslim sejati yang mempunyai visi yang sama untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Tapi lucunya, kalau diminta untuk mengejewantahkan ke dalam diri seseorang, jujur saja aku tidak tahu. Again, jodoh sesungguhnya sebuah rahasia yang mutlak milik Allah Swt. Proses pertemuanku dengan sang suami pun bak cerita dongeng. Jangankan sahabat atau rekan kantor, pun jika kami kembali me-rewind proses pertemuan kami, wuih … unbelievable! but it happened! Subhanallah… Suamiku adalah sosok yang biasa dan sangat sederhana, namun justru kesederhanaan dan keterbiasaannya itulah yang memikat hati ini. Dan, alhamdulillaah hampir mendekati kriteria seorang suami yang aku dambakan. Di beberapa malam kebersamaan kami, suami sering menanyakan kepadaku tentang satu hal, “apakah bunda bahagia menikah dengan aku?” aku pun menjawab dengan jeda waktu sedikit lama, “ya, bunda bahagia, ayah”. Masya Allah, seandainya suamiku tahu, besarnya rasa bahagia yang ada di dada ini lebih dari yang dia tahu. Besarnya rasa syukur ini memiliki dia cukup menggetarkan segenap hati sampai aku perlu jeda waktu untuk menjawab pertanyaannya. Hanya, aku masih belum mampu mengungkapkan secara verbal. Allah yang Maha Mengetahui segala getaran cinta yang ada di hati bunda, Allah yang Maha Mengetahui segala rasa sayang yang ada di jiwa bunda. Karena, atas nama Allah bunda mencintai ayah. Pertama kali aku melihat suamiku adalah ketika acara ta’lim kantor kami di luar kota. Kami berdua belum mengenal satu sama lain. Hanya kesederhanaan dan wajah teduhnya sempat mampir di dalam pikiranku. Beberapa hari kemudian, aku terlibat diskusi di forum ta’lim yang difasilitasi oleh kantor kami. Di sinilah aku merasakan kuasa Allah yang sangat besar. Rupanya teman diskusi itu adalah si empunya wajah teduh tersebut. Ini aku ketahui ketika kami janjian bertemu di suatu majelis ta’lim di salah satu masjid di Jakarta. Sempat juga aku kaget ketika menemui wajah yang tidak asing itu. Setelah acara ta’lim selesai, kami sempat mengobrol selama kurang dari satu jam dan kami pun pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada yang special pada saat itu, at all. Namun beberapa hari kemudian, entah kenapa wajah teduh itu mulai hadir di pikiranku kembali. Ternyata hal yang sama pun terjadi di pihak sana. Kami pun sepakat untuk melakukan ostikharah. Subhanallaah, tidak ada kebimbangan sama sekali dalam hati kami berdua untuk menyegerakan hubungan ini ke dalam pernikahan. Satu minggu setelah pertemuan kami di masjid, sang calon suami pun melamarku lewat telepon. Pun tanpa ada keraguan aku menjawab YA, ketika dia mengatakan akan membawa keluarganya untuk meng-khitbah ahad yang akan datang. Pernikahan kami terlaksana justru bersamaan dengan rencana khitbah itu sendiri. Proses yang terjadi adalah keajaiban buat kami berdua dan semua adalah kuasa Allah yang ditunjukkan kepada kami. Kami rasakan tangan’ Allah benar-benar turun menolong memudahkan segala urusan. Hari H yang semestinya adalah pertemuan antar dua keluarga dalam acara khitbah, justru dilakukan bersamaan dengan akad nikah. Sujud syukur kami berdua, karena semua acara berjalan begitu lancar, dari mulai dukungan seluruh keluarga, urusan penghulu dan pengurusan surat-surat ke KUA, hanya dilakukan dalam waktu 1 hari 1 malam!!. Maha Suci Allah, hal tersebut semakin menguatkan hati kami, bahwa pernikahan ini adalah rencana terbaik dari Allah Swt dan Dia-lah Pemersatu bagi perjanjian suci kami ini. Dalam isak tangis kebahagiaan kami atas segala kemudahan yang diberikan-Nya, tak pernah putus kami bersyukur akan nikmat-Nya. Insya Allah, pernikahan kami merupakan hijrahnya kami menuju kehidupan yang lebih baik dengan mengharap ridho Allah, karena tanggal pernikahan kami selisih satu hari setelah hari Isra mi’raj. Akhirnya setelah sekian lama aku mengembara mencari pasangan hidup ternyata jodohku tidak pernah jauh dari pelupuk mata. Suamiku adalah teman satu kantor yang justru tidak pernah aku kenal kecuali dua minggu sebelum pernikahan kami. Inilah rahasia Allah Swt yang tidak pernah dapat kita ketahui kecuali dengan berkhusbudzon kepada-Nya. Percayalah, bahwa Allah Swt adalah sebaik-sebaik Pembuat keputusan. Serahkanlah segala urusan hanya kepada Allah semata. Jika sekarang para akhwat yang sudah di atas usia kepala tiga merasa khawatir karena belum mendapatkan pasangan/jodoh, percayalah selalu akan janji Allah di dalam firman-Nya “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. ar-Ruum21 Jangankan manusia, hewan dan buah-buahan pun diciptakan Allah perpasangan. Ber-khusnudzon selalu kepada-Nya bahwa, entah esok, lusa, satu bulan, satu tahun atau bahkan mungkin sepuluh tahun nanti, dengan ijin Allah, jodoh kalian pasti akan datang. Pasangan jiwa yang terbaik yang dijanjikan dan dipersatukan-Nya dalam perjanjian suci yang disebut pernikahan. Wallahu’alam bishshowab. bunda ___________________ sumber Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci. Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’. ”Subhanallaah…wal hamdulillaah…”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa. ”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni. ”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati. ”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.” Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara. ”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” ??? Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah. Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan.. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karunia-Nya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya! __________________________________ Sumber Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” Karya Salim A. Fillah Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu. ”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.. Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan. Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan. Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu? ”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..” ”Aku?”, tanyanya tak yakin. ”Ya. Engkau wahai saudaraku!” ”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?” ”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!” ’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan. ”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?” ”Entahlah..” ”Apa maksudmu?” ”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!” ”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!” Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya. ___________________ Sumber Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” Karya Salim A. Fillah Di antara keutamaan menikah dengan gadis perawan adalah mereka lebih rela dengan nafkah yang sedikit. Anda bisa berumah tangga mulai dari nol, dari keadaan tidak punya apa-apa sama sekali. Penghasilan pas-pasan dan rumah kontrakan tipe RS7 tidak menjadi persoalan. Tidak berkurang sedikit pun kemesraan dan ketulusannya. Itulah yang dikatakan Rasulullah, “….. lebih rela menerima pemberian, nafkah yang sedikit”. Ketika menelisik kehidupan nyata saat ini… muncul pertanyaan, adakah gadis baik saat ini ketika kehormatan dan kesucian dianggap tidak penting lagi? Ada gak ya? Hm.. Anda mungkin bisa membayangkannya ketika melihat pergaulan muda-mudi di sekeliling Anda. Kalo saya sih, hanya bisa mengelus dada bukan sok suci lho, ngelus dada karena haus nih, eh salah ya, harusnya ngelus kerongkongan… maksa hehe. Kesucian cinta yang seharusnya hanya dipersembahkan untuk sang suami, apa jadinya jika telah ternoda? Kisah Rani, Rebeca dan Yayuk adalah hanya sekelumit kisah di permukaan. Banyak fakta dan cerita yang lebih parah dari sekedar cerita ringan Rani, Rebeca dan Yayuk. Menurut survey BKKBN tahun 2008, 63 persen remaja Indonesia pernah berhubungan seks. Parahnya, hasil penelitian Komnas Anak pada tahun yang sama menunjukkan 62,7 persen remaja SMP sudah tidak perawan lagi. Wow… kapan melakukannya ya? Saat belajar kelompok kali! hehe Kasihan suami kita kelak. Ia kita berikan cinta sisa orang. Sang istri telah ternoda dan sudah “tidak perawan” dalam makna kiasan ataupun sungguhan. Kelak, ketika sudah bersuami, wanita yang hatinya telah ternoda cenderung membandingkan suami dengan hal terkesan di masa lalu bersama “sang mantan”. Akibatnya, ia tidak terima jika suami tak sesuai dengan harapannya. Tepatnya, tidak sesuai seperti sang mantannya. Mungkin itu salah satu penyebab tingginya perceraian saat ini. Menurut KUA, setiap 100 orang yang menikah, 10 pasangannya bercerai. Umumnya mereka yang baru berumah tangga KUA 2007. Tahun 2007 aja sudah seperti itu, apalagi tahun sekarang 2010… pasti lebih tinggi lagi. Terus kalo tahun 2012? Jangan bilang Kiamat sudah dekat! Benar pernyataan Rasulullah, “Kawinilah gadis…”! Pengalaman bercintanya pertama kali hanya dengan suami. Apapun kelemahan dan kekurangan suami yang tidak bertentangan dengan hukum syara, ia akan menerimanya. Karena ia belum punya pembanding yang lebih perfect sebelumnya. Cintanya akan ia tumpahkan seutuhnya untuk sang suami.. Betapa indah! Nah, bagi wanita yang lagi pacaran… hati-hati… hatimu ternoda. Jangan biarkan dirimu termangsa. Kalo bisa, langsung minta nikah ke cowoknya. Cowok biasanya ingin enaknya aja, tapi gak mau tanggung jawab. Ibarat kata, “Cowok lo yang makan nangkanya orang lain yang kena getahnya…” hmm, udah mulai 17+ nih. Kalo cowok gak mau menikahimu atau belum siap nikah, putusin aja sebelum mereka semakin banyak menggoreskan noda. Setelah pria memberi noda, apakah Anda bisa menjamin mereka tetap di samping Anda? Tak ada penjara yang mampu memenjarakan hati pria di dunia ini ketika pria itu sudah dapat apa yang diinginkannya. Selamatkan diri Anda segera! Soal jodoh, serahkan pada Allah… lebih baik kita mempersiapkan diri menjadi wanita terbaik untuk suami kita kelak. Ketika Anda bersiap diri, insya Allah jodoh akan menghampirimu. Kelak, belajarlah mengenal suami apa adanya. Anggap saja, ia lelaki pertama yang engkau kenal.. Dialah lelaki sejati yang akan menemanimu sepanjang hayat. Jangan kau sakiti mereka dengan mengungkap dosa lama. Dengan membandingkan dan memimpikan sang mantan atau pujaan dalam kehidupan rumah tangamu. Tutuplah masa kelammu.. pejamkan mata dan bertaubat. Allah berfirman “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”[Qs Al-Baqarah222]. “….janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[Az Zumar53]. Wallahu a’lamu bish-shawab. Ken Ahmad “Kamu koq gak romantis sih? Sesekali kasih dong aku bunga!” Rani menggerutu dan cemberut di hadapan suaminya. Sang suami memang polos dan tidak pandai mengungkapkan kata-kata cinta. Sebenarnya sang suami bukan tak cinta, namun ia punya cara lain dalam mengekspresikan cinta. Baginya, kerja keras untuk menafkahi keluarga serta sesekali membantu pekerjaan istri di rumah adalah bentuk cinta kepada istrinya. Memang kekurangannya adalah kaku dan tak pandai berucap romantis. Lain Rani, Lain pula Rebeca. Tadi malam Rebeca ngambek kepada sang suami. Keinginannya untuk membeli baju baru tak kesampean lantaran penghasilan sang suami pas-pasan. Rebeca memiliki tipe suami P13 … Pergi Pagi Pulang Petang Pinggang dan Pundak Pegal-Pegal Penghasilan Pas-Pasan Potong sani Potong sini… seterusnya tambahin sendiri ya?! hehe. Ada lagi. Yayuk namanya. Dia sudah cape jadi kontaktor terus bersama suaminya. Pindah-pindah kontakan udah biasa. Maklum, cari yang murah. “Ayah, kapan kita punya rumah sendiri? Kan gak enak pindah-pindah memulu”, Yayuk bersungut-sungut ke suaminya. Sang suami hanya terdiam. Ia tampak sedih membatin, di dalam kontakannya. Kontrakan yang baru ia dapatkan susah payah. Cari yang murah, namun enak ditempati memang sulit. Ia hanya bisa dapatkan rumah dengan tipe RS7… Rumah Sangat Sederhana dan Sempit Sekali Sisinya Sawah dan Selokan… lebai ini sih, hehe. Usut terusut… Rani… ternyata pernah memiliki mantan yang super romantis. Bertolak belakang dengan sang suami. Pantas, ia selalu menuntut suami agar wajib bersikap romantis Rebeca… ternyata pernah memiliki pujaan hati anak gedongan. Saat pacaran dengan sang mantan, Rebeca sering dibelikan baju walau ia tak memintanya. Bertentangan dengan sang suami, jangankan beli baju… beli garem sama terasi aja sulit.. maklum dah, wong pailit. Terakhir, Yayuk. Ternyata eh, ternyata… ia pernah pacaran dengan putera konglomerat. Sang putera sudah dibangunkan rumah mewah oleh ortunya sebagai persiapan untuk keluarganya kelak. Tentu saja, ini kontadiktif dengan Paijo, sang suami yang dengan banting daging dan tulang pun, belum mampu menyediakan rumah yang nyaman bagi Yayuk. Dari peristiwa di atas, saya jadi teringat sebuah hadist… pesan Rasulullah kepada yang hendak menikah. “Kawinilah gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih sedap mulutnya, lebih banyak melahirkan, dan lebih rela menerima pemberian, nafkah yang sedikit.” HR Thabrani Seorang gadis yang hatinya belum disinggahi perasaan cinta, ketika ia menikah akan lebih jernih ungkapan perasaannya. Akan terlahir kemesraan yang lebih hangat. Sedap mulutnya. Ada canda yang menyegarkan jiwa, ada juga gelak tawa kecil yang renyah. Bisa bermesraan saat-saat berdua dengan cubitan cinta rada mendayu-dayu nih, hihi. Kita juga bisa saling gigit dengan gigitan sayang jangan terlalu keras, nanti sariawan! Hehe. Akibatnya, letih dan penat yang kita rasakan saat pulang, rasanya hilang tanpa bekas. Tunggu ya, bagian2 Ken Ahmad.
kisah akhwat menanti jodoh